Oleh: Moh. Christoffel Buhang, S.Sos
(Ketua Presidium Pemekaran Kabupaten Boltara)
Sembilan belas tahun lalu, daerah ini lahir dari rahim perjuangan. Ia bukan sekadar hasil keputusan politik di atas meja kekuasaan, melainkan buah dari air mata, pengorbanan, dan keyakinan panjang masyarakat yang ingin melihat masa depan lebih baik bagi anak cucunya.
Binadou yang kini dikenal sebagai Bolaang Mongondow Utara lahir seperti seorang bayi yang diperebutkan harapan. Banyak orang berjalan jauh, mengetuk pintu demi pintu, membawa proposal, menyuarakan aspirasi, bahkan menahan lelah dan hinaan agar daerah ini bisa berdiri sendiri. Ada yang mengorbankan waktu, tenaga, jabatan, bahkan kehidupan pribadinya demi satu cita-cita: menghadirkan daerah yang lebih dekat dengan rakyat.
Hari ini, bayi itu telah berusia 19 tahun. Ia tidak lagi kecil. Ia mulai tumbuh dewasa. Tetapi pertanyaan pentingnya, apakah Boltara benar-benar sedang bertumbuh menuju cita-cita perjuangan itu, atau justru perlahan kehilangan arah di tengah hiruk-pikuk kekuasaan?
Kadang hati terasa sesak melihat kenyataan hari ini. Semangat perjuangan yang dulu menyatukan banyak orang perlahan mulai memudar. Mereka yang dahulu berteriak tentang rakyat, sebagian kini lebih sibuk menjaga kursi dan kekuasaan. Politik lebih ramai membicarakan siapa mendapat apa dibanding bagaimana daerah ini bisa maju lebih cepat. Padahal daerah ini tidak diperjuangkan demi jabatan.
Boltara tidak lahir agar pejabat sibuk mempertahankan posisi. Jabatan hanyalah persinggahan singkat yang suatu hari pasti ditinggalkan. Yang akan dikenang rakyat bukan seberapa lama seseorang duduk di kursi kekuasaan, melainkan apa yang telah diperbuat bagi daerah ini.
Begitu pula anggota DPRD. Rakyat tidak memilih wakilnya hanya agar sibuk menghitung periodisasi dan peluang pemilihan berikutnya. Di luar gedung sidang itu, masih banyak rakyat kecil yang menunggu keberpihakan nyata. Masih ada jalan rusak, nelayan yang kesulitan melaut, petani yang bertahan dengan harga hasil panen yang tidak menentu, serta anak-anak desa yang menggantungkan masa depan pada pendidikan yang kadang belum sepenuhnya layak.
Di usia ke-19 ini, Boltara seharusnya mulai melompat lebih jauh. Pendidikan harus menjadi fondasi utama pembangunan. Jangan biarkan anak-anak daerah ini tumbuh dengan mimpi yang terbatas hanya karena negara belum sepenuhnya hadir bagi mereka. Sekolah membutuhkan perhatian serius. Guru harus diperkuat. Generasi muda mesti dipersiapkan menghadapi zaman yang terus berubah.
Begitu juga sektor kesehatan. Jangan sampai rakyat kecil menahan sakit lebih lama karena pelayanan sulit dijangkau. Jangan ada lagi masyarakat yang merasa sendirian saat membutuhkan pengobatan. Daerah ini harus hadir melindungi mereka yang lemah.
Boltara juga membutuhkan keberanian membuka jalan investasi yang sehat dan berpihak pada rakyat. Potensi daerah ini terlalu besar jika hanya dibiarkan menjadi cerita dari tahun ke tahun. Laut yang luas, tanah yang subur, serta kekayaan alam yang melimpah semestinya mampu menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Karena itu, revisi RTRW tidak boleh terus berlarut-larut. Daerah tanpa kepastian tata ruang ibarat kapal tanpa arah. Investor membutuhkan kepastian. Rakyat membutuhkan perlindungan. Masa depan pembangunan memerlukan keberanian mengambil keputusan.
Boltara adalah daerah pesisir. Laut bukan sekadar pemandangan, melainkan denyut kehidupan masyarakat. Sektor perikanan dan kelautan harus benar-benar menjadi prioritas. Nelayan membutuhkan perhatian nyata, bukan sekadar janji yang datang saat momentum politik.
Begitu pula sektor pertanian. Banyak keluarga di daerah ini hidup dari kebun dan ladang. Mereka bekerja dalam diam, berkeringat di bawah panas matahari, berharap hasil panen mampu menghidupi keluarga. Namun terlalu sering petani hanya menjadi pelengkap pidato tanpa perlindungan yang benar-benar mereka rasakan.
“Jangan ada sejengkal tanah dan seorang manusia yang termarginalkan di Bumi Binadou.”
Kalimat itu bukan sekadar pesan. Itu adalah cita-cita perjuangan. Sebuah harapan agar daerah ini menjadi rumah besar yang nyaman bagi semua orang. Jangan ada rakyat yang merasa tersisih hanya karena pilihan politik, latar belakang, keadaan ekonomi, atau kedekatan dengan kekuasaan. Boltara harus menjadi tanah yang menghadirkan rasa aman, keadilan, dan harapan hidup yang sama bagi siapa saja.
Refleksi 19 tahun Boltara seharusnya membuat kita semua berhenti sejenak dan bertanya dalam hati: apakah daerah ini masih berjalan di atas semangat perjuangan yang sama seperti dulu?
Sebab Boltara tidak dibangun oleh satu orang. Daerah ini berdiri karena begitu banyak tangan ikut menopang. Ada doa para orang tua. Ada langkah para mahasiswa. Ada suara rakyat kecil yang percaya hidup mereka akan berubah ketika daerah ini berdiri sendiri.
Maka jangan biarkan perjuangan itu kehilangan makna. Jangan biarkan Boltara tumbuh besar, tetapi kehilangan jiwanya.
Di usia ke-19 ini, daerah ini membutuhkan lebih dari sekadar seremoni, baliho, dan panggung perayaan. Boltara membutuhkan hati yang benar-benar mencintai daerah ini. Membutuhkan pemimpin yang bekerja dengan nurani. Membutuhkan keberanian menjaga cita-cita perjuangan agar tidak tenggelam oleh kepentingan sesaat.
Karena kelak, ketika waktu berlalu dan generasi berganti, sejarah tidak akan bertanya siapa yang paling lama berkuasa. Sejarah hanya akan mengingat siapa yang benar-benar menjaga perjuangan daerah ini tetap hidup.
Catatan Akhir
“Ibu kita, Binadou telah banyak membuat kita tersenyum. Jangan biarkan ia menangis atas cita-cita dan harapannya sendiri.
Sebagai anak-anaknya, mari bersatu dan bahu-membahu agar mimpi besar ibu kita menjadi kenyataan. Di bawah kepemimpinan seorang anak daerah yang dahulu berada di garis depan memperjuangkan cita-cita tanah kelahirannya, masih ada harapan semua mimpi itu dapat diwujudkan.”
