Belajarlah Kalian Pada Bocil-Bocil Itu

Oleh: Ramdan Buhang

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu menghargai jasa para pahlawannya.” Kalimat itu kembali terlintas di kepala saya selepas mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin, (17/8/2026). Kalimat yang hampir selalu kita dengar setiap Agustus, tetapi entah mengapa terasa berbeda ketika kita melihat sendiri bagaimana orang-orang memperlakukan sebuah upacara yang seharusnya menjadi bentuk penghormatan kepada mereka yang telah memperjuangkan kemerdekaan.

Pagi itu matahari cukup terik. Panasnya tidak memilih siapa yang hendak disinari. Pelajar, guru, ASN dan masyarakat sama-sama berada di bawah matahari yang sama. Tetapi setelah beberapa waktu, terlihat sejumlah ASN mulai keluar dari barisan. Mereka memilih berdiri di trotoar, di sisi lapangan atau mencari tempat yang lebih teduh. Barisan yang sebelumnya penuh perlahan ditinggalkan oleh sebagian orang yang mungkin merasa panas sudah lebih penting daripada kewajiban mengikuti upacara sampai selesai.

Yang menarik justru terjadi di tengah lapangan. Pelajar SMP dan SMA tetap bertahan dalam barisan. Mereka sama-sama kepanasan, sama-sama berkeringat dan tentu sama-sama ingin segera meninggalkan lapangan. Tetapi mereka tidak melakukannya. Anak-anak itu tetap berdiri, mengikuti rangkaian upacara sebagaimana mestinya, sementara sebagian orang dewasa yang seharusnya memberikan contoh justru memilih menyelamatkan diri dari matahari.

Pemandangan seperti itu sebenarnya sederhana. Namun bagi saya, ia menyimpan ironi yang cukup dalam. Kita sering mengatakan generasi muda harus belajar disiplin, harus menghormati simbol negara, harus memiliki jiwa nasionalisme dan harus memahami pengorbanan para pahlawan. Kita bahkan sering mengeluhkan anak-anak zaman sekarang yang dianggap semakin jauh dari nilai-nilai perjuangan. Tetapi pada pagi itu, justru anak-anak sekolah yang menunjukkan kepada orang dewasa bagaimana sebuah kewajiban sederhana dijalankan.

Saya tentu tidak ingin menggeneralisasi semua ASN. Ada orang yang mungkin memiliki alasan kesehatan, kondisi fisik atau keadaan tertentu yang membuatnya tidak sanggup berdiri terlalu lama. Hal seperti itu tentu berbeda dan tidak pantas dinilai hanya dari apa yang terlihat. Tetapi jika seseorang meninggalkan barisan semata-mata karena tidak ingin berpanas-panasan, kita layak bertanya kepada diri sendiri: apakah beberapa jam berdiri di bawah matahari benar-benar terlalu berat jika dibandingkan dengan harga yang pernah dibayar para pejuang kemerdekaan?

Kita hari ini hanya diminta mengikuti upacara. Tidak ada peluru yang mengarah kepada kita. Tidak ada tentara penjajah yang mengejar. Tidak ada ketakutan apakah malam nanti kita masih bisa bertemu keluarga. Setelah upacara selesai, kita bisa pulang ke rumah, mandi, makan dan kembali menikmati kehidupan seperti biasa. Para pejuang dulu tidak memiliki kemewahan semacam itu. Mereka bergerak dengan segala keterbatasan, hidup dalam ketidakpastian, kehilangan orang-orang terdekat dan menghadapi kemungkinan kematian setiap saat. Banyak di antara mereka bahkan gugur sebelum sempat menikmati Indonesia yang mereka perjuangkan.

Karena itu, membandingkan panas matahari beberapa jam dengan pengorbanan para pahlawan tentu bukan perbandingan yang seimbang. Kita tidak diminta membayar kemerdekaan dengan darah. Kita hanya diminta menghormatinya. Dan bagi seorang ASN, mengikuti upacara kemerdekaan dengan tertib semestinya bukan pengorbanan yang luar biasa. Mereka adalah aparatur negara, bagian dari sistem pemerintahan yang berdiri di atas kemerdekaan yang diperjuangkan generasi sebelumnya. Ada tanggung jawab moral di balik status itu, termasuk memberi teladan kepada masyarakat.

Di sinilah saya kira rasa malu perlu ditempatkan secara proporsional. Bukan malu karena berkeringat, sebab keringat bukan aib. Bukan pula malu karena wajah menjadi merah diterpa matahari. Yang semestinya membuat kita malu adalah ketika sedikit ketidaknyamanan saja sudah cukup membuat kita meninggalkan kewajiban, sementara orang-orang yang kita kenang setiap 17 Agustus dahulu tidak memiliki pilihan selain menghadapi ketidaknyamanan yang jauh lebih besar.

Bayangkan jika para pejuang kemerdekaan dulu memiliki standar kenyamanan seperti kita. Mungkin mereka akan menunda bergerilya karena cuaca terlalu panas, menunggu perlengkapan lebih lengkap, mencari tempat yang lebih teduh sebelum bergerak, atau meminta perang dihentikan sementara karena kondisi tidak nyaman. Untungnya mereka tidak berpikir seperti itu. Mereka menghadapi keadaan sebagaimana adanya karena yang dipertaruhkan bukan kenyamanan pribadi, melainkan masa depan sebuah bangsa.

Ironinya, setelah puluhan tahun kemerdekaan diwariskan kepada kita, tantangan terbesar sebagian orang justru bisa berubah menjadi sesuatu yang sangat sederhana: panas matahari ketika mengikuti upacara. Barangkali inilah salah satu risiko dari terlalu lama menikmati kemerdekaan. Kita bisa lupa bahwa sesuatu yang sekarang terasa biasa dahulu diperjuangkan dengan harga yang luar biasa mahal.

Yang membuat saya semakin berpikir adalah anak-anak sekolah tadi. Mereka belum menjadi pejabat, belum menerima gaji dari negara dan belum memiliki kewenangan apa pun. Mereka hanya pelajar. Namun mereka mampu bertahan dalam barisan sampai rangkaian upacara selesai. Mereka mungkin tidak sedang bermaksud mengajari siapa pun, tetapi tanpa sadar mereka memberikan pelajaran yang cukup telak kepada orang dewasa: bahwa disiplin kadang hanya membutuhkan kesediaan menahan sedikit rasa tidak nyaman.

Kita sering mencari cara membangun karakter anak melalui kurikulum, seminar, pelatihan dan berbagai program. Padahal karakter sering kali terbentuk dari apa yang mereka lihat setiap hari. Seorang anak mungkin lupa apa yang disampaikan dalam sebuah pidato, tetapi sangat mungkin mengingat bagaimana orang dewasa bersikap di hadapannya. Ketika kita meminta mereka menghormati pahlawan, sementara kita sendiri meninggalkan barisan karena panas, kita sebenarnya sedang memberikan dua pelajaran yang berbeda. Kata-kata mengatakan satu hal, tindakan mengatakan hal lain.

Maka persoalannya sesungguhnya bukan tentang siapa yang paling tahan panas. Nasionalisme tentu tidak bisa diukur dari banyaknya keringat yang keluar. Tetapi upacara kemerdekaan juga bukan sekadar acara rutin yang harus dihadiri agar daftar hadir terisi. Ada simbol yang dihormati di sana, ada sejarah yang sedang dikenang dan ada pengorbanan yang sedang kita ingat kembali. Jika untuk menghormatinya saja kita tidak sanggup menahan sedikit rasa tidak nyaman, mungkin ada sesuatu dalam cara kita memaknai kemerdekaan yang perlu diperiksa kembali.

Kita tidak perlu menjadi pahlawan. Kita tidak perlu mengangkat senjata. Kita tidak perlu mempertaruhkan nyawa seperti mereka yang gugur dalam perjuangan. Kita hanya perlu menjadi warga negara yang tahu berterima kasih kepada sejarahnya. Bagi ASN, rasa terima kasih itu semestinya juga hadir dalam bentuk disiplin, tanggung jawab dan keteladanan, bukan hanya dalam upacara dan pidato.

Sebab pada akhirnya, kemerdekaan bukan sekadar hak menikmati kebebasan. Ia juga menyisakan kewajiban moral untuk menghargai orang-orang yang membuat kebebasan itu mungkin. Dan mungkin, penghormatan paling sederhana pada sebuah upacara kemerdekaan adalah tetap berada dalam barisan sampai selesai, meski matahari sedang terik.

Anak-anak SMP dan SMA pada pagi itu sudah menunjukkan bahwa mereka mampu melakukannya. Tinggal kita yang lebih dewasa memilih: mau belajar dari mereka, atau tetap mencari tempat teduh sambil berbicara tentang jasa para pahlawan.

Exit mobile version