BOROKO, BINADOW.COM — Tokoh masyarakat (Tomas), Arman Lumoto, mantan Wakil Ketua DPRD Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), menyoroti potensi ketidaksesuaian laporan progres pekerjaan dengan kondisi fisik di lapangan. Ia mengingatkan adanya celah rekayasa progres pada tiga proyek jalan di ibu kota kabupaten yang memerlukan pengawasan serius.
Ketiga proyek tersebut menyerap anggaran sekitar Rp3,5 miliar. CV Tirta Kencana menangani pemeliharaan jalan ibu kota senilai sekitar Rp1,1 miliar. CV Karisma Persada mengerjakan rekonstruksi Jalan Pajala di Bolangitang II senilai sekitar Rp500 juta. Sementara itu, CV Padat Aksi Niaga menangani rekonstruksi atau peningkatan jalan di Bolangitang dengan anggaran sekitar Rp1,9 miliar.
Tomas Soroti Progres dan Mutu Jalan
“Yang perlu diawasi adalah kesesuaian antara progres yang dilaporkan dengan kondisi pekerjaan sebenarnya di lapangan. Pekerjaan punya tahapan dan jadwal yang jelas dalam Kurva S. Jangan sampai laporan kemajuan tidak mencerminkan realisasi fisik pekerjaan,” kata Arman, Senin (26/10/2026).
Arman menyoroti persoalan tersebut setelah pelaksanaan ketiga proyek jalan itu sempat mengalami penghentian pekerjaan. Ia juga memperhatikan penggunaan alat berat dan tenaga kerja secara bergantian di lokasi proyek.
Menurut Arman, setiap pekerjaan konstruksi memiliki tahapan dan target yang harus dipenuhi. Karena itu, pihak terkait perlu mencocokkan laporan kemajuan dengan kondisi fisik di lapangan, bukan sekadar mengandalkan angka dalam dokumen administrasi.
Arman tidak menyatakan bahwa kontraktor telah merekayasa laporan progres. Ia mengingatkan adanya potensi celah yang perlu diperiksa agar pelaksana proyek tetap mematuhi ketentuan kontrak, baik mengenai volume pekerjaan, jadwal penyelesaian, maupun kualitas konstruksi.
Arman juga menyoroti mutu jalan di Bolmut. Ia menyebut sejumlah jalan mengalami kerusakan dalam waktu relatif singkat, bahkan ada yang baru berumur sekitar satu tahun sudah berlubang.
“Jalan yang baru dibangun, tetapi dalam waktu sekitar satu tahun sudah berlubang, harus menjadi bahan evaluasi. Mutu pekerjaan perlu diperiksa agar anggaran yang digunakan benar-benar menghasilkan infrastruktur yang berkualitas,” ujarnya.
Meski demikian, hubungan antara potensi ketidaksesuaian laporan progres dan kerusakan jalan tersebut masih memerlukan pemeriksaan teknis. Kualitas material, metode pelaksanaan, kondisi drainase, dan beban kendaraan merupakan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi daya tahan jalan.
Dua Proyek Sempat Masuk Kontrak Kritis
Menanggapi persoalan progres, Kepala Dinas PUTR Bolmut Abdul Jalil Pandialang melalui Kabid Binamarga, Yuni, menjelaskan kepada media ini, dua dari tiga proyek jalan tersebut sempat masuk kategori kontrak kritis. Menurut Yuni, deviasi negatif progres pekerjaan yang melampaui batas toleransi kontrak memicu kondisi tersebut.
Kedua paket itu meliputi Rekonstruksi/Peningkatan Jalan Pajala di Bolangitang II dan Pemeliharaan Berkala Ruas Jalan Kabupaten.
Berdasarkan data yang disampaikan Yuni, proyek Jalan Pajala pada minggu ke-10, 2 September 2026, memiliki target progres 24,27 persen. Namun, realisasi fisiknya baru mencapai 13,13 persen. Selisih tersebut menghasilkan deviasi negatif 11,14 poin persentase.
Pada proyek Pemeliharaan Berkala Ruas Jalan Kabupaten, target progres pada minggu ke-15, 11 Oktober 2026, mencapai 40,65 persen. Kontraktor baru merealisasikan pekerjaan fisik sebesar 19,25 persen sehingga deviasi negatifnya mencapai 21,40 poin persentase.
Untuk mengatasi keterlambatan, dinas menggelar Show Cause Meeting (SCM) bersama para kontraktor. Pertemuan itu membahas langkah percepatan agar pelaksana dapat mengejar ketertinggalan pekerjaan.
Dalam SCM, dinas meminta kontraktor mempercepat pengiriman material Limestone Fine Aggregate (LFA) Kelas A dari basecamp ke lokasi proyek. Dinas juga meminta kontraktor menambah armada truk pengangkut dan menjaga persediaan LFA Kelas A serta Kelas B sesuai kebutuhan harian.
Selain itu, kontraktor harus memastikan material memenuhi spesifikasi teknis berdasarkan hasil pengujian Laboratorium Politeknik Manado.
Progres Setelah SCM Melampaui Target Uji Coba
Setelah SCM, PPK meminta kontraktor mengejar ketertinggalan melalui target percepatan atau test case.
Pada proyek Jalan Pajala,PUTR menargetkan progres kumulatif sebesar 54,20 persen dalam waktu 21 hari. Hasil evaluasi pada 23 September 2026 menunjukkan realisasi fisik mencapai 55,23 persen. Angka tersebut melampaui target sebesar 1,03 poin persentase.
Sementara itu, PUTR menargetkan progres proyek Pemeliharaan Berkala Ruas Jalan Kabupaten sebesar 77,28 persen dalam uji coba selama tujuh hari. Dalam evaluasi pada 23 Oktober 2026, Yuni menyebut realisasi fisik mencapai 96,53 persen.
Namun, penjelasan Yuni memuat perbedaan angka target. Yuni juga menggunakan angka 69,34 persen sebagai target pembanding untuk menghitung deviasi positif sebesar 27,19 poin persentase.
Perbedaan antara target test case sebesar 77,28 persen dan angka pembanding 69,34 persen tersebut masih memerlukan klarifikasi agar pembaca dapat memahami dasar perhitungan progres secara utuh.
Yuni menegaskan bahwa kontraktor tetap harus mengikuti gambar kerja, metode pelaksanaan yang disetujui, dan ketentuan kontrak saat mempercepat pekerjaan.
Dinas mengendalikan mutu dengan memeriksa material sebelum kontraktor menggunakannya, mengawasi setiap tahapan pekerjaan, dan menguji hasil konstruksi sesuai spesifikasi teknis.
Pengawasan Progres dan Mutu Jadi Perhatian
Sebelumnya, media ini memberitakan penggunaan alat berat dan tenaga kerja secara bergantian pada tiga proyek jalan yang berlangsung bersamaan. Dalam laporan tersebut, pihak pelaksana menyebut para pekerja menggunakan sejumlah peralatan secara bergantian. Sementara itu, Dinas PUTR menyatakan penggunaan alat yang sama belum otomatis menunjukkan pelanggaran.
Kepala Dinas PUTR Bolmut menegaskan, pihaknya akan mengevaluasi penggunaan alat berat dan tenaga kerja secara bergantian pada setiap proyek. Evaluasi tersebut mengacu pada ketentuan kontrak dan dampaknya terhadap kelancaran pekerjaan.
Ia juga meminta jajarannya mencocokkan laporan progres kontraktor dengan kondisi fisik di lapangan. Selain itu, dinas memeriksa material, mengawasi setiap tahapan pekerjaan, dan menguji mutu hasil konstruksi guna memastikan kontraktor memenuhi spesifikasi teknis.
Terkait deviasi progres pada dua paket pekerjaan yang sempat masuk kategori kontrak kritis, Dinas PUTR telah menggelar Show Cause Meeting (SCM) bersama kontraktor. Melalui langkah tersebut, dinas mendorong percepatan pekerjaan agar kontraktor mengejar target dan memenuhi ketentuan kontrak. Pengawasan ketat juga menjadi prioritas untuk menjaga kualitas pembangunan jalan di Bolmut.
Penulis: Ramdan Buhang
