Dayak Ngaju Dengan Tradisi Eksotik Sarat Filosofi

oleh -20.272 views
Banner Iklan Sariksa

BINADOW.COM – Banyaknya suku dan budaya di Pulau Kalimantan menjadikan Pulau ini memiliki daya tarik tersendiri. Masing-masing suku memiliki tradisi yang berbeda-beda yang menambah deretan kekayaan budaya Nusantara.

Borneo nama lain dari kalimantan, dipuncak kejayaan kerajaan majapahit merupakan wilayah taklukan kedelapan. kala itu Parbu Prabu Hayam Wuruk raja Majapahit begitu berambisi untuk menguasai Borneo karena terdorong sumpah Palapa yang diikrarkan Maha Patih Gajah Mada untuk menguasai nusantara.

Penaklukan itu digencarkan pada 1356 M. Kerajaan Majapahit mengirim ekspedisi militer pertama ke wilayah Borneo. oleh masyarakat sekitarnya Borneo dikenal dengan nama Tanjung Negara

Dari keragaman suku bangsa di pulau Kalimantan. Salah satunya adalah suku Dayak Ngaju. Suku Dayak Ngaju adalah suku asli dan subetnis Dayak terbesar di Kalimantan Tengah. Persebaran suku ini cukup luas. Utamanya terkonsentrasi di daerah Palangkaraya, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Kapuas, Kabupaten Katingan, Kabupaten Kotawaringin Timur, dan Kabupaten Seruyan.

Melansir halaman Borneo News, leluhur Dayak Ngaju diyakini berasal dari kerajaan yang terletak di lembah pegunungan Yunan bagian selatan, tepatnya di Tiongkok Barat Laut berbatasan dengan Vietnam. Mereka bermigrasi besar-besaran sekitar tahun 3.000 – 1.500 Sebelum Masehi. Kini Dayak Ngaju menjadi subetnis terbesar di Kalimantan Tengah. Di tengah perkembangan dunia modern, mereka masih menjaga nilai dan tradisi ajaran leluhur mereka.

  • Kepercayaan Kaharingan

Ciri khas Suku Dayak Ngaju adalah hingga sekarang masih menganut kepercayaan Kaharingan. Kaharingan mempunyai makna tumbuh atau hidup, sehingga kepercayaan Kaharingan adalah kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan.

  • Upacara Tiwah

Selain itu, Suku Dayak Ngaju juga melakukan upacara tiwah. Upacara ini merupakan sebuah proses mengantarkan arwah atau roh leluhur ke surga melalui Lewu Tatau Habaras Bulau Hagusung Intan Dia Rumpang Tulang, artinya sebuah tempat yang kekal dan abadi. Suku ini meyakini leluhur akan senang dan bahagia jika arwah mereka sudah diantarkan.

  • Tradisi Tato

Sama halnya dengan suku-suku Dayak lainnya di Pulau Kalimantan, Suku Dayak Ngaju juga mempunyai tradisi bertato. Baik laki-laki maupun perempuan, masyarakat Dayak Ngaju menato bagian-bagian tertentu dari tubuhnya, seperti pergelangan tangan, punggung, perut, atau leher. Selain sebagai simbol status, tato Dayak juga merupakan sebuah identitas. Menato tubuh ini diyakini bahwa kelak setelah meninggal dan sampai ke surga, tato itu akan bersinar kemilau dan berubah menjadi emas sehingga dapat dikenali oleh leluhur mereka di surga.

  • Pakaian Adat, Merah dan Burung Enggang

Pakaian adat Suku Dayak Ngaju juga mempunyai ciri khas tersendiri. Suku ini menggunakan pakaian adat yang didominasi warna merah dan kuning. Warna-warna ini diperoleh dari pewarna alam dari hutan. Suku Dayak Ngaju juga menggunakan kain atau rompi yang terbuat dari kulit kayu yang disebut kulit nyamu, yang kemudian diperindah menggunakan hiasan kepala dari bulu burung enggang dan ruai.

  • Hukum Adat dan Keselarasan Alam

Sejak dahulu hingga sekarang, orang Dayak Ngaju terkenal dengan hukum adat mereka. Terutama berkaitan dengan bagaimana mereka hidup berdampingan dengan alam atau hutan. Hukum adat merupakan aturan yang telah digariskan dan diwariskan oleh leluhur mereka untuk ditaati. Jika tidak melaksanakan hukum adat, Suku Dayak Ngaju yakin leluhur mereka akan marah dengan mengirimkan berbagai bencana alam seperti banjir.

Catatan : Tulisan ini dirangkum dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *