Andi Ayub Mangoli: Dari Ruang Kelas ke Kursi Kepemimpinan, Sebuah Pengabdian Tanpa Batas

Opini & Analisis373 Dilihat

D i tengah derasnya arus zaman, ketika banyak orang menjadikan profesi sekadar batu loncatan, ada sosok yang memilih mengakar, mengabdi, dan memberi warna bagi tanah kelahirannya. Andi Ayub Mangoli bukan sekadar nama, melainkan kisah tentang dedikasi, perjuangan, dan ketulusan dalam membangun generasi penerus serta masyarakat di Bolaang Mongondow Timur.

Sejak menyelesaikan studinya di Universitas Negeri Manado, Andi tidak tergoda gemerlap karier di kota besar. Ia memilih pulang, menanamkan ilmu di kampung halaman, dan sejak 2019 mengabdikan diri sebagai guru di SMP Satap Jiko. Dalam keterbatasan sarana dan prasarana, ia tetap teguh mendidik, membimbing, dan menyalakan harapan baru bagi anak-anak Boltim.

banner 851x315

Namun, pengabdian Andi tidak berhenti di ruang kelas. Ia dipercaya untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar. Pada Senin (24/3), di Aula Lantai 3 Kantor Bupati Boltim, Andi Ayub Mangoli resmi dilantik oleh Bupati Bolaang Mongondow Timur, Oskar Manoppo, sebagai Penjabat Sementara Kepala Desa (Sangadi) Dodap Mikasa, Kecamatan Tutuyan. Amanah ini bukanlah sekadar jabatan, melainkan bentuk kepercayaan masyarakat terhadap dirinya.

Seorang pemimpin desa bukan hanya pembuat kebijakan, tetapi juga jembatan bagi harapan rakyatnya. Andi menyadari betul hal ini. Ia melangkah dengan hati, memastikan pelayanan publik berjalan baik, memperjuangkan kesejahteraan warganya, dan tetap menjaga komitmennya dalam dunia pendidikan.

Tidak hanya sebagai guru dan pemimpin, Andi juga dikenal sebagai seorang pegiat literasi yang aktif menulis. Kecintaannya pada dunia literasi membuahkan penghargaan sebagai “Guru Penulis Teraktif Kabupaten Bolaang Mongondow Timur” dari Agen Literasi Indonesia tahun 2024. Bagi Andi, menulis bukan sekadar menuangkan gagasan, tetapi juga cara mengabadikan ilmu dan budaya.

Dedikasinya terhadap seni dan kebudayaan pun tak diragukan. Pada tahun 2023, ia dipercaya sebagai juri dalam Sayembara Batik Boltim, membuktikan bahwa perhatiannya tidak hanya pada pendidikan dan kepemimpinan, tetapi juga pada pelestarian kearifan lokal.

Baca Juga  Manado Tunjukkan Toleransi di Hari Raya

Kisah Andi Ayub Mangoli mengajarkan bahwa pengabdian sejati bukanlah tentang popularitas, melainkan tentang ketulusan dan dampak yang ditinggalkan. Dalam dunia yang dipenuhi ambisi akan pengakuan, Andi memilih jalan sunyi: membangun dari akar, bekerja tanpa banyak sorotan, dan membiarkan karyanya berbicara.

Di antara mereka yang berani melangkah meski dalam kesunyian, Andi Ayub Mangoli adalah satu sosok yang patut diteladani. Karena sejatinya, perubahan besar selalu dimulai dari hati yang tulus untuk mengabdi.

Penulis: Rits Rumewo

Komentar