Feature

Pencari Kayu Bakar Itu Kini Memimpin BKPSDM Bolmut

Penulis: Ramdhan Buhang, SP

Langkah kaki itu pernah begitu akrab dengan debu jalanan dari Labuan, ujung Desa Boroko, Kecamatan Kaidipang, menuju Kecamatan Bolangitang.

Hampir setiap pagi, seorang remaja berjalan kaki menempuh perjalanan lebih dari tujuh kilometer menuju SMA Negeri 1 Bolangitang. Saat sebagian pelajar lain berangkat dengan sepeda, ia memilih menapaki jalan berdebu dalam panas dan hujan karena tidak memiliki pilihan lain. Tidak ada kendaraan. Tidak ada kemewahan. Yang ada hanya satu keyakinan sederhana: sekolah harus tetap dilanjutkan meski hidup serba kekurangan.

Remaja itu bernama Mirwan Datukaramat. Ia lahir 43 tahun silam dan tumbuh di tengah keluarga nelayan sederhana di Boroko sebagai anak keempat dari lima bersaudara. Ayahnya mencari ikan di laut, sementara ibunya menjual kue dari rumah ke rumah. Kehidupan keluarga mereka berjalan dalam keterbatasan yang nyaris tak pernah benar-benar selesai.

Sejak kecil, Mirwan tidak mengenal masa kanak-kanak yang sepenuhnya dipenuhi keceriaan seperti anak-anak seusianya. Saat sebagian anak menikmati waktu bermain bersama teman sebaya, ia justru sudah terbiasa membantu orang tua mencari tambahan penghasilan. Pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke SDN 1 Boroko, Mirwan kecil lebih dulu menenteng baki berisi kue dagangan ibunya lalu berjalan mengelilingi jalan-jalan di seputaran Boroko. Ia mengetuk rumah demi rumah sambil berharap jualannya cepat habis sebelum lonceng sekolah berbunyi.

Hari libur pun bukan waktu bermain. Bersama ibu dan saudara-saudaranya, ia ikut mengambil kayu bakar di rawa dan kawasan bakau. Kayu-kayu itu dipikul lalu dijual demi menyambung hidup keluarga. Kadang mereka harus berjalan jauh menyusuri pesisir. Tubuh kecil Mirwan sudah terbiasa mengangkat kayu dan menahan panas matahari sejak usia sangat muda.

Ia bahkan masih mengingat jelas satu peristiwa yang nyaris merenggut nyawa mereka. Sepulang mengambil kayu bakar bersama ibu dan adiknya, perahu kecil yang mereka tumpangi terbalik di tengah laut karena tak mampu menahan berat muatan. Ombak menggulung, kayu-kayu berserakan, sementara mereka berusaha menyelamatkan diri di tengah kepanikan.

“Waktu itu saya pikir akan mati tenggelam di laut. Saya cuma berusaha pegang perahu sambil memastikan ibu dan adik jangan sampai tenggelam,” kenang Mirwan.

Namun kehidupan yang keras tidak membuat Mirwan menyerah pada keadaan. Justru dari situlah lahir keyakinan besar dalam dirinya, pendidikan adalah satu-satunya jalan yang mungkin mengubah nasib keluarga mereka. Tahun 1994, ia lulus dari SDN 1 Boroko. Tiga tahun kemudian, ia menyelesaikan pendidikan di SMP Negeri 1 Kaidipang. Tetapi selepas SMP, hidupnya memasuki fase paling sulit. Indonesia saat itu sedang dihantam krisis moneter. Harga kebutuhan melonjak. Kehidupan masyarakat kecil limbung. Keluarga nelayan seperti keluarganya ikut merasakan dampak paling berat.

Mirwan hampir tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMA karena keterbatasan biaya. Di titik itulah ayahnya mengambil keputusan besar yang tak pernah bisa dilupakan Mirwan sepanjang hidupnya: menjual perahu. Perahu yang selama bertahun-tahun dipakai mencari nafkah di laut rela dilepas demi biaya sekolah anaknya.

Bagi keluarga nelayan kecil, perahu bukan sekadar alat mencari ikan. Perahu adalah sumber kehidupan. Tetapi ayahnya memilih kehilangan sumber penghidupan demi memastikan anaknya tetap memiliki masa depan.

Dengan uang hasil penjualan perahu itu, Mirwan akhirnya bisa mendaftar di SMA Negeri 1 Bolangitang. Hidup tetap berjalan dalam keterbatasan. Ia hanya memiliki satu pasang seragam putih abu-abu. Seragam pramuka dan pakaian PMR dibelinya bekas dari kakak kelas yang baru lulus. Semua seragam itu dipakai hingga tamat SMA pada tahun 2000. Perjalanan menuju sekolah menjadi cerita yang paling membekas dalam hidupnya. Saat teman-temannya pergi ke sekolah menggunakan sepeda, Mirwan berjalan kaki dari ujung Labuang menuju Bolangitang hampir setiap hari. Ia menapaki jalan panjang itu dalam panas dan hujan.

“Alhamdulillah semua dijalani dengan ikhlas,” katanya suatu ketika.

Di antara lima bersaudara, hanya Mirwan yang mampu bertahan hingga menyelesaikan pendidikan SMA. Empat saudara lainnya harus rela putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarga. Namun Mirwan belum ingin berhenti. Tahun 2000, dengan keberanian yang nyaris terdengar nekat, ia memutuskan merantau ke Gorontalo melanjutkan pendidikan di STMIK Ichsan Gorontalo meski saat itu belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota tersebut.

Hari-hari pertama di Gorontalo tidak mudah. Kehidupan mahasiswa dijalaninya dengan serba terbatas. Tetapi Mirwan memilih bertahan dan belajar lebih keras dibanding banyak orang di sekitarnya. Kemampuannya di bidang komputer mulai menarik perhatian dosen. Saat memasuki semester empat, salah satu dosen memintanya menjadi asisten dosen. Tahun 2004, Mirwan menyelesaikan pendidikan Diploma Tiga. Namun ketika masa depan mulai terlihat terang, keluarganya kembali mendapat cobaan berat. Ayahnya mengalami kecelakaan laut saat mencari ikan dan sempat hilang selama tiga hari tiga malam akibat dihantam badai.

Mirwan sempat berpikir menghentikan kuliah demi membantu keluarga. Tetapi pihak kampus memilih berdiri di belakangnya. Ia diberi kesempatan menyelesaikan pendidikan Strata Satu tanpa biaya hingga wisuda. Selain itu, karena sudah menjadi asisten dosen, ia juga menerima honor yang membantu kebutuhan hidupnya. Pada 2006, Mirwan resmi menyandang gelar Sarjana Komputer. Setelah lulus, pihak kampus tetap mempertahankannya sebagai tenaga pengajar. Masa depan sebagai akademisi mulai terbuka lebar.

Namun tahun 2007 menjadi titik penting dalam hidupnya ketika Kabupaten Bolaang Mongondow Utara resmi dimekarkan menjadi daerah otonom baru. Di satu sisi, ia memiliki pekerjaan yang cukup baik di Gorontalo. Di sisi lain, daerah kelahirannya sedang mulai membangun diri. Akhirnya ia mengambil keputusan besar: pulang. Ia meninggalkan dunia kampus dan kembali ke Bolaang Mongondow Utara.

Pada Agustus 2007, Mirwan membuka lembaga kursus komputer di kampung halamannya. Saat itu teknologi informasi masih terasa asing bagi sebagian masyarakat Bolmut sehingga kursus yang dibukanya mendapat sambutan luas. Di tahun yang sama, pemerintah daerah membuka penerimaan CPNS pertama. Mirwan ikut mendaftar, namun belum berhasil lolos. Di sela mengelola lembaga kursus, Kepala SMK Negeri 1 Kaidipang memintanya menjadi Ketua Jurusan Multimedia karena sekolah itu baru pertama kali membuka jurusan tersebut.

Kesempatan kedua datang pada penerimaan CPNS 2008. Formasi tenaga komputer saat itu hanya tersedia bagi tiga orang. Mirwan kembali ikut seleksi dan kali ini ia berhasil. Tanggal 1 Februari 2009, ia resmi diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil dan ditempatkan di Badan Kepegawaian Daerah. Setahun kemudian, tepat 1 April 2010, ia resmi menjadi Pegawai Negeri Sipil.

Karier birokrasi yang dijalaninya berkembang perlahan. Anak nelayan yang dulu menjual kue sebelum sekolah itu mulai dipercaya memegang berbagai tanggung jawab penting di pemerintahan daerah. Ia pernah menjabat Pelaksana Tugas Kepala Sub Bidang Bina Karir dan Bina Hukum Kepegawaian Badan Kepegawaian Daerah, kemudian menjadi Kepala Sub Bidang Perencanaan dan Formasi BKDD. Kariernya terus bergerak. Ia dipercaya menjadi Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian BKDD, lalu menjabat Kepala Bidang Aplikasi Informatika Persandian dan Statistik Dinas Kominfo dan Persandian.

Setelah itu, Mirwan dimutasi menjadi Kepala Bidang Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu di Dinas Penanaman Modal dan PTSP. Ia juga pernah menjabat Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian sebelum dipromosikan menjadi Sekretaris Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian. Pada 1 November 2024, Mirwan dipercaya menjadi Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kominfo dan Persandian. Hingga akhirnya, pada 5 Mei 2026, ia resmi dilantik sebagai Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.

Ia kembali ke tempat awal pengabdiannya sebagai ASN. Tetapi kali ini bukan lagi sebagai pegawai muda yang datang membawa harapan sederhana dan map lusuh di tangan.

Bertahun-tahun lalu, seorang pencari ikan rela menjual perahunya agar anaknya tetap bisa sekolah.

Di masa itu, tak ada yang menyangka anak kecil yang ikut mencari kayu bakar di rawa dan pesisir, berjalan kaki lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, lalu menjual kue sebelum belajar di kelas, kelak akan memimpin Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.

Perahu itu memang sudah lama hilang. Tetapi dari keluarga sederhana itulah lahir perjalanan hidup seorang pencari kayu bakar yang kini memimpin BKPSDM Bolmut.**

Ramdan Buhang

Meniti karier sebagai Jurnalis sejak 2010, berkomitmen pada dunia jurnalistik. Merekam jejak, mengungkap fakta, dan menyajikan cerita dengan perspektif berbeda.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button