BRMP Sulut Sebut Panen PM-AAS di Boltara Tertinggi, Tembus 10,03 Ton per Hektare
BOROKO, BINADOW.COM — Hasil panen padi melalui model Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Desa Jambusarang, Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, mencapai 10,03 ton per hektare. Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Utara menyebut capaian tersebut menjadi hasil tertinggi dibanding pola penanaman padi konvensional yang selama ini diterapkan.
Panen perdana itu berlangsung Jumat, (28/8/2026), di lahan Kelompok Tani (KT) Botusiopo yang dikelola petani Kisman Payagi. Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Bolaang Mongondow Utara Sirajudin Lasena dan Kapolres Bolmong Utara AKBP Andhika Fitransyah.
Kepala BRMP Sulawesi Utara Dr. Steivie Karouw, S.TP., M.Sc. mengatakan panen di Jambusarang merupakan panen perdana model PM-AAS di Sulawesi Utara. Ia mengaku gembira melihat produktivitas yang dihasilkan dari penerapan model tersebut.
“Ini merupakan panen perdana model PM-AAS di Sulawesi Utara. Kami sangat gembira melihat hasil panen yang menunjukkan produktivitas yang sangat baik,” ujar Steivie.
Menurut dia, hasil ubinan mencapai 10,03 ton per hektare. Angka tersebut menjadi capaian tertinggi bila dibandingkan dengan model penanaman padi konvensional yang biasanya diterapkan.
Capaian itu menjadi salah satu indikator awal bagi BRMP Sulut dalam melihat penerapan model PM-AAS di lahan petani. Produktivitas tersebut sekaligus menunjukkan potensi inovasi pertanian modern dalam meningkatkan hasil produksi padi.
Ahli Agronomi BRMP Sulut Dr. Faisal, SP., M.Si. menilai hasil panen tersebut menunjukkan inovasi pertanian yang dikembangkan BRMP mulai memberikan hasil nyata di tingkat petani. Keberhasilan lahan percontohan di Jambusarang, menurut dia, dapat menjadi pijakan dalam mendorong penerapan PM-AAS secara lebih luas.
Ia berharap model tersebut tidak berhenti pada demplot di Jambusarang, tetapi terus dikembangkan dan diaplikasikan oleh petani di berbagai wilayah Sulawesi Utara.
“Semoga inovasi BRMP ini terus berkembang dan dapat diaplikasikan oleh seluruh petani di Sulawesi Utara, sehingga memberikan manfaat untuk meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Faisal.
Pengembangan PM-AAS juga membutuhkan pendampingan di tingkat petani. Penyuluh pertanian menjadi bagian penting dalam memastikan penerapan teknologi dan pola budidaya yang diperkenalkan melalui program tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan.
Constantine Simbala, SP., penyuluh pertanian Sulawesi Utara, mengatakan pengawalan kepada petani diperlukan agar penerapan PM-AAS dapat terus dikembangkan sesuai kondisi lahan dan kebutuhan petani.
Baca Juga: Bupati dan Kapolres Panen Perdana Padi PM-AAS di Jambusarang, Hasil Tembus 10,03 Ton per Hektare
Sementara itu, Katimker Penyuluh Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Ingriastuti Masloman, S.TP., menyatakan kesiapan para penyuluh di daerah dalam mendukung sekaligus mengawal program tersebut.
“Kami para Penyuluh Pertanian di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara siap mendukung dan mengawal penuh Program PM-AAS,” kata Ingriastuti.
Menurut Ingriastuti, demplot PM-AAS di Jambusarang menjadi lahan percontohan bagi petani dalam meningkatkan produktivitas dan produksi padi. Penerapan model tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Demplot PM-AAS berada di lahan KT Botusiopo, Desa Jambusarang, dengan Kisman Payagi sebagai petani pengelola. Panen perdana pada Jumat, (28/8/2026), menjadi bagian dari penerapan inovasi pertanian modern BRMP Sulut bersama pemerintah daerah dalam mendorong peningkatan produktivitas padi di Sulawesi Utara.
Penulis: Ramdan Buhang





