Berhari Raya ke Rumah Guru: Apakah Tradisi Ini Masih Relevan?

Opini & Analisis194 Dilihat

Oleh: Ramdan Buhang

T radisi berkunjung ke rumah guru saat hari raya Idul Fitri sepertinya kini semakin terlupakan. Dulu, ketika saya masih di bangku SD, SMP dan SMA, tradisi ini menjadi momen yang sangat spesial, bukan hanya sekadar untuk memberi ucapan selamat, tetapi juga untuk mempererat hubungan sosial antara siswa dan guru. Kami, para siswa, sering berbondong-bondong mengunjungi rumah guru, mengucapkan terima kasih atas bimbingan mereka, dan sekaligus menjaga ikatan yang lebih personal.

banner 851x315

Namun, dalam sebuah obrolan dengan seorang guru SMK Kaidipang malam tadi, saya menanyakan apakah tradisi ini masih dilakukan oleh para siswa. Jawabannya cukup jelas: tidak ada lagi siswa yang datang ke rumahnya. Guru tersebut menjelaskan bahwa meskipun dia memahami perubahan zaman, ia merasa bahwa kebiasaan berkunjung ke rumah guru sudah tidak lagi menjadi hal yang umum di kalangan siswa saat ini.

Mengapa tradisi ini mulai hilang? Salah satu alasan yang paling terlihat adalah perkembangan teknologi. Kini, dengan kemajuan media sosial dan aplikasi pesan instan, siswa lebih memilih untuk mengucapkan selamat secara virtual daripada berkunjung langsung ke rumah guru. Teknologi memungkinkan mereka untuk tetap menyampaikan rasa hormat dan ucapan selamat tanpa perlu bertemu langsung. Meskipun cara ini lebih praktis, tentu saja ia mengurangi kedalaman interaksi yang dulu terasa lebih hangat dan lebih bermakna.

Selain itu, kesibukan siswa yang semakin meningkat juga berperan dalam perubahan ini. Banyak dari mereka yang terlibat dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler, pekerjaan paruh waktu, atau les privat, yang membuat waktu untuk berkunjung ke rumah guru terasa semakin sempit. Hari raya, yang dulunya menjadi kesempatan untuk saling berkunjung dan menjalin kebersamaan, kini lebih sering digunakan untuk berkumpul bersama keluarga atau teman-teman.

Baca Juga  Pererat Silaturahmi, Yusra Alhabsy Kunjungi Rudis Bupati Boltim

Perubahan lainnya terjadi dalam cara pandang terhadap hubungan antara guru dan siswa. Dulu, hubungan ini lebih bersifat hierarkis, dengan guru sebagai sosok yang dihormati dan dihargai. Kini, hubungan tersebut lebih egaliter. Guru tidak lagi dipandang sebagai figur yang harus dihormati dengan cara-cara formal seperti berkunjung ke rumah mereka. Sebaliknya, hubungan antara guru dan siswa menjadi lebih santai dan tidak terikat pada ritual atau kewajiban tertentu.

Meskipun begitu, saya merasa bahwa tradisi berkunjung ke rumah guru tetap memiliki nilai yang penting. Ini bukan sekadar soal memberi ucapan selamat, tetapi tentang memperkuat ikatan sosial dan membangun hubungan yang lebih manusiawi. Berkunjung ke rumah guru memberikan kesempatan untuk saling mengenal lebih dekat dan menunjukkan rasa hormat dengan cara yang lebih personal. Pendidikan sejatinya tidak hanya melibatkan transfer ilmu, tetapi juga hubungan sosial yang saling menguatkan antara guru dan siswa.

Namun, saya juga menyadari bahwa perubahan zaman membawa tantangan tersendiri. Mungkin tradisi berkunjung ke rumah guru tidak lagi relevan dalam konteks modern ini. Tetapi bukan berarti kita harus kehilangan esensi dari hubungan tersebut. Mungkin, ada cara baru yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman untuk menjaga hubungan antara guru dan siswa, tanpa harus terikat pada tradisi yang lama.

Di akhirnya, penting bagi kita untuk menjaga nilai-nilai kebersamaan dan penghormatan dalam pendidikan. Apapun bentuknya, hubungan antara guru dan siswa harus tetap dibangun dengan penuh makna, baik dalam perayaan Idul Fitri maupun dalam interaksi sehari-hari di sekolah. (*)

Komentar