Isu Viral

Surya Paloh Bantah Penggabungan NasDem dengan Gerindra

JAKARTA, BINADOW.COM — Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh membantah isu penggabungan NasDem dengan Partai Gerindra. Isu itu sebelumnya muncul dalam laporan Majalah Tempo edisi 12 April 2026.

Surya menyampaikan bantahan itu usai menghadiri halalbihalal Forum Pemimpin Redaksi di NasDem Tower, Jakarta, Kamis, (16/4/2026).

Ia menegaskan tidak ada rencana melebur NasDem dengan partai yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto.

“Sudah pastilah tidak ada. Itu terlalu cepat menyimpulkan, tapi saya pikir wajar,” kata Surya dikutip dari laman Fraksi NasDem, Ahad, (19/4/2026).

Selain itu, Surya juga menyinggung pertemuannya dengan Prabowo di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada pertengahan Februari 2026. Pertemuan itu berlangsung tertutup.

Ia mengatakan pembahasan saat itu berkisar pada tantangan Indonesia ke depan serta konsolidasi partai koalisi.

“Tapi bukan hanya itu. Ada pikiran-pikiran bagaimana menghadapi tantangan ke depan. Semua partai koalisi membahasnya. NasDem juga ada di dalam koalisi,” ujarnya kepada media ini.

Ia menilai kritik tetap penting dalam demokrasi. Namun, kritik harus dijaga agar tidak melemahkan.

Isu Penggabungan Muncul dari Pertemuan Hambalang

Sementara itu, Majalah Tempo melaporkan adanya usulan penggabungan NasDem dengan Gerindra. Surya menyebut usulan itu muncul setelah pertemuan di Hambalang.

Surya Paloh bantah penggabungan NasDem Gerindra dan menegaskan tidak ada pembahasan ke arah merger.

Jika digabung, dua partai bisa meraih hampir 35 juta suara nasional atau sekitar 23 persen berdasarkan hasil Pemilu 2024.

Namun, sejumlah pejabat NasDem menyebut Surya tidak tertarik. Ia memilih mempertahankan posisi partai dan belum melihat manfaat penggabungan.

Saan Mustopa Sebut Fusi Sulit

Wakil Ketua Partai NasDem Saan Mustopa mengaku terkejut dengan isu tersebut.

Ia menyebut istilah yang lebih tepat adalah fusi, bukan merger atau akuisisi.

Baca Juga  Rentetan Duka Usai Cerai, Fanny Fadillah Sempat Diganggu Pikiran Gelap

Menurut Saan, penggabungan partai pernah terjadi pada 1973. Namun, kondisi saat ini berbeda.

“Dalam konteks ideologi, identitas, dan eksistensi, tiap partai punya idealisme yang berbeda,” kata Saan di Kompleks DPR, Jakarta, Senin, (13/4/2026).

FILNA LACOCI

Jurnalis BINADOW.COM yang meliput isu politik lokal, kebijakan publik, dan dinamika sosial di Bolaang Mongondow Raya. Ia menulis dengan pendekatan lugas, berbasis data lapangan, serta mengutamakan akurasi informasi.

Comment

Back to top button