Lauk Ayam Diduga Basi, Tahu Isi Ikan Picu Keluhan Gatal, Menu MBG Kaidipang Jadi Sorotan
BOROKO, BINADOW.COM — Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kaidipang menjadi sorotan setelah muncul serangkaian keluhan dari tenaga pendidik dan siswa terkait makanan yang didistribusikan ke sekolah.
Keluhan terbaru mencuat pada Rabu, (10/6/2026), setelah seorang guru mengaku mengalami rasa gatal usai mencicipi menu tahu isi ikan yang akan disajikan kepada peserta didik. Pengakuan tersebut terekam dalam video yang kemudian beredar luas di media sosial dan memicu beragam reaksi masyarakat.
Seorang guru mengaku dirinya bersama empat rekan guru mengalami rasa gatal setelah mencicipi menu tahu berisi ikan tuna yang akan dibagikan kepada siswa.
“Ini ikan yang dalam tahu sebelum disalurkan makan kami dan empat guru. Terasa gatal sekali sampai lidah saya terasa keram,” ujar guru tersebut saat di konfirmasi media ini, Kamis (11/6/2026).
Selain keluhan yang terekam dalam video, seorang guru juga mengaku mengalami pembengkakan pada bibir setelah mencicipi makanan yang sama.
Tak hanya menu tahu berisi ikan tuna, muncul pula keluhan terkait buah pepaya yang ikut dibagikan dalam paket MBG. Sejumlah penerima manfaat menilai kondisi buah tersebut sudah mengalami perubahan dan diduga tidak layak dikonsumsi.
Keluhan tersebut menambah daftar persoalan yang sebelumnya telah disampaikan pihak SDN 13 Kaidipang terkait menu MBG yang diterima sekolah mereka.
Menurut pengakuan pihak sekolah, pada Senin, (8/6/2026), siswa dan guru menerima menu MBG dengan lauk ayam. Saat makanan dibagikan, sejumlah guru menilai kuah lauk ayam terlihat berbusa dan memiliki rasa asam yang lebih kuat dari biasanya.
Salah seorang guru pria yang mengonsumsi makanan tersebut mengaku tidak menaruh curiga karena menganggap rasa asam berasal dari bumbu masakan. Namun setelah menyantap makanan itu, ia mengalami diare cukup berat.
Keluhan serupa, menurut pihak sekolah, juga dialami sejumlah siswa yang mengonsumsi menu yang sama.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada hasil pemeriksaan medis yang menyatakan secara pasti adanya hubungan langsung antara keluhan diare tersebut dengan makanan yang disajikan dalam program MBG.
Menindaklanjuti laporan yang beredar, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Boroko Kaidipang bersama jajaran staf langsung mendatangi SDN 13 Kaidipang yang menjadi sekolah pertama melaporkan dugaan masalah pada menu MBG.
Di lokasi, pihak SPPG melakukan pemeriksaan langsung terhadap makanan yang dipersoalkan. Uji rasa juga dilakukan terhadap menu yang dikeluhkan guna memastikan kondisi makanan yang telah didistribusikan.
Menurut pihak SPPG, hasil pemeriksaan awal tidak menemukan indikasi yang dapat menyebabkan reaksi gatal sebagaimana yang dikeluhkan.
Meski demikian, sebagai bentuk tanggung jawab dan langkah antisipatif, seluruh paket MBG yang telah didistribusikan pada hari itu langsung ditarik dari sekolah-sekolah penerima manfaat.
“Kami langsung melakukan pemeriksaan dan uji rasa terhadap menu yang dilaporkan. Namun sebagai langkah kehati-hatian, seluruh paket MBG untuk hari itu tetap kami tarik dan distribusi dihentikan sementara,” ujar pihak SPPG kepada media ini.
Laporan tersebut juga mendapat perhatian dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Tim kesehatan bersama ahli gizi melakukan inspeksi ke dapur SPPG Boroko Kaidipang guna melakukan evaluasi terhadap menu yang menjadi sorotan.
Pemeriksaan dilakukan melalui uji organoleptik, meliputi pengecekan bau, warna, tekstur, hingga uji rasa terhadap makanan yang dipersoalkan.
Berdasarkan hasil evaluasi sementara, petugas tidak menemukan adanya reaksi gatal maupun indikasi lain yang menunjukkan makanan tersebut bermasalah.
“Setelah dilakukan pemeriksaan oleh ahli gizi melalui uji organoleptik, tidak ditemukan adanya reaksi gatal ataupun indikasi lain yang menunjukkan makanan tersebut bermasalah,” jelas pihak SPPG berdasarkan hasil evaluasi bersama Dinas Kesehatan.
Meski membantah adanya temuan makanan tidak layak konsumsi berdasarkan hasil pemeriksaan awal, pihak SPPG tetap menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah dan seluruh penerima manfaat atas ketidaknyamanan yang terjadi.
SPPG juga memastikan akan membuka ruang evaluasi bersama kepala sekolah dan guru penanggung jawab program guna membahas seluruh keluhan yang muncul di lapangan.
“Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang terjadi. Semua masukan, kritik, dan laporan akan menjadi bahan evaluasi agar pelayanan program MBG ke depan semakin baik,” tegas pihak SPPG. (**/dan)






