Prestasi dan Minat Siswa Tumbuh, Sarana SMAN Bolangitang Timur Masih Terbatas
BOROKO, BINADOW.COM — Nama SMA Negeri Bolangitang Timur belakangan cukup sering muncul di berbagai ajang perlombaan. Dari panggung baca puisi hingga kegiatan kepramukaan, siswa sekolah ini membawa pulang sejumlah prestasi. Minat siswa baru pun ikut tumbuh.
Namun, di balik prestasi yang terus bermunculan, kondisi sarana sekolah masih menyisakan pekerjaan rumah. Saat hujan, halaman menjadi becek. Ketika musim panas, debu mudah beterbangan dan mengganggu aktivitas di lingkungan sekolah. Pagar di sisi samping dan belakang pun masih berupa pagar darurat dari seng bekas.
Kepala SMA Negeri Bolangitang Timur, Dewi Ragiel Susanti, mengatakan sekolah terus berupaya memperkenalkan diri melalui prestasi dan berbagai kegiatan. Olahraga, kesenian dan kepramukaan menjadi program yang aktif diikuti siswa.
“Hal ini merupakan salah satu upaya sekolah dalam mempromosikan sekolah sekaligus menarik minat siswa untuk mendaftar di sekolah kami,” ujar Dewi kepada media ini, Jumat (21/08/2026)
Upaya itu tampaknya mulai terlihat hasilnya. SMA Negeri Bolangitang Timur meluluskan 81 siswa pada 2026, sementara jumlah siswa baru yang mendaftar mencapai 144 orang.

Jumlah seluruh siswa kini mencapai 293 orang. Angka itu meningkat dari 250 siswa pada 2025.
Di bidang seni, salah satu siswa sekolah tersebut meraih juara pertama baca puisi pada FLS3N tingkat Provinsi Sulawesi Utara 2025. Prestasi itu mengantarkannya mewakili Sulawesi Utara ke tingkat nasional.
Pada FLS3N tingkat provinsi 2026, prestasi kembali diraih meski dengan peringkat berbeda. Siswa SMA Negeri Bolangitang Timur menjadi juara harapan kedua cabang baca puisi.
Prestasi lain datang dari kepramukaan. Sekolah tersebut meraih juara umum dalam kegiatan Pramuka Penegak tingkat SMA, SMK dan SMTK se-Kabupaten Boltara yang berlangsung 11-15 Agustus 2026 di Desa Ollot, Kecamatan Bolangitang.
Dewi mengatakan sekolahnya kini mendapat peluang membenahi kondisi tersebut melalui program revitalisasi sekolah Kementerian Pendidikan. Pihak sekolah sedang menyiapkan sejumlah persyaratan administrasi, termasuk dokumen perencanaan.
Ia berharap usulan revitalisasi itu disetujui sehingga pembenahan sarana sekolah dapat segera dilakukan.
“Kami sementara mempersiapkan administrasi persyaratannya, salah satunya perencanaan. Kami berharap usulan ini bisa gol sehingga sekolah segera dibenahi,” kata Dewi.
Sambil menunggu program tersebut, sekolah masih memiliki kebutuhan pembiayaan lain. Selain BOS/BOSP, terdapat sumbangan melalui Komite Sekolah sebesar Rp50 ribu per siswa setiap bulan.
Dana itu disebut dibagi menjadi Rp20 ribu bagi pembayaran honor guru non-ASN dan Rp30 ribu bagi pembangunan paving block halaman sekolah.
Pada 2025, dengan jumlah siswa 250 orang, sumbangan tersebut secara matematis berpotensi mencapai Rp150 juta setahun jika seluruh siswa membayar setiap bulan. Namun, sekolah menyebut dana yang terkumpul hanya sekitar Rp60 juta karena sifatnya sumbangan dan tidak semua orang tua siswa menyetor.
Sementara dana BOS/BOSP yang diterima sekolah meningkat dari Rp437,5 juta pada 2025 menjadi Rp512,75 juta pada 2026.
Sekolah memiliki 28 guru, terdiri atas 23 ASN dan lima non-ASN. Di tengah bertambahnya jumlah siswa dan prestasi yang terus diraih, kebutuhan pembenahan sarana masih menjadi pekerjaan sekolah yang kini berharap bisa ditangani melalui program revitalisasi.
Penulis: Ramdan Buhang






