Feature

Persia, Peradaban yang Mengajarkan Manusia Pakai Celana

Kita mengenakan celana setiap hari, berjalan di taman kota, mengirim pesan lintas jarak, hingga mempelajari ilmu kedokteran modern—tanpa banyak yang sadar, sebagian jejak itu berakar dari satu peradaban kuno: Persia.

Selama ini, sejarah kerap menempatkan Yunani dan Romawi sebagai pusat lahirnya peradaban Barat. Namun, di balik itu, Persia menyimpan pengaruh yang tak kalah besar—bahkan sering luput dari perhatian.

Profesor Jose Cutillas, akademisi Bahasa Persia dan Budaya Iran di Universitas Alicante, Spanyol, menyebut banyak gagasan yang kini dianggap milik dunia Barat justru berasal dari Persia. Ia menilai sudut pandang Euro-sentris membuat kontribusi itu seolah tersisih dari narasi utama sejarah.

Jejak itu muncul sejak ribuan tahun lalu. Dalam aspek keyakinan, konsep satu Tuhan telah dikenal melalui ajaran Zarathustra sekitar 3.500 tahun silam. Gagasan tentang malaikat, nabi, hingga surga dan neraka juga berkembang dalam tradisi tersebut—konsep yang kini akrab dalam berbagai agama besar.

Namun, pengaruh Persia tidak berhenti pada ranah spiritual. Ia hadir dalam hal-hal sederhana yang nyaris tak pernah dipertanyakan.

Celana, misalnya. Pada masa ketika banyak peradaban masih mengenakan jubah atau tunik, bangsa nomaden dari wilayah Iran kuno memilih pakaian yang lebih praktis untuk menunggang kuda. Pilihan itu kemudian menyebar, menjadi bagian dari budaya berpakaian dunia.

Begitu pula dengan taman. Bagi orang Persia, taman bukan sekadar ruang hijau, melainkan representasi harmoni antara manusia dan alam. Desainnya simetris, dialiri air, dan sarat makna kosmologis. Dari sanalah lahir konsep “surga di bumi”—yang jejak katanya masih hidup dalam istilah paradise.

Di bidang kekuasaan, Persia menawarkan model berbeda. Kekaisaran Achaemenid membangun sistem administrasi yang rapi di wilayah luas lintas benua. Saat Cyrus Agung menaklukkan Babilonia pada 539 SM, ia tidak hanya memperluas wilayah, tetapi juga membebaskan tawanan dan memberi ruang bagi keberagaman keyakinan—langkah yang kerap disebut sebagai salah satu embrio gagasan hak asasi manusia.

Untuk menjaga wilayah yang begitu luas tetap terhubung, Persia menciptakan sistem pos terorganisasi. Kurir berkuda bergerak dari satu titik ke titik lain, berganti kuda, menyampaikan pesan dengan kecepatan yang pada masanya terbilang revolusioner.

Warisan itu juga tampak dalam ilmu pengetahuan. Ibnu Sina, ilmuwan Persia yang dikenal di Barat sebagai Avicenna, menulis Canon of Medicine, ensiklopedia yang menjadi rujukan utama di Eropa selama berabad-abad. Di bidang matematika, Al Khawarizmi dan Omar Khayyam mengembangkan aljabar dan teori persamaan kubik—fondasi penting dalam sains modern.

Di sisi lain, Persia menenun budaya dalam bentuk yang lebih halus. Karpet-karpet dengan motif rumit bukan sekadar barang, melainkan karya seni yang melintasi batas geografis dan waktu. Dari istana hingga rumah ibadah, jejaknya tersebar luas.

Sejarawan Tom Holland bahkan menyebut pengaruh Persia setidaknya setara dengan Athena dalam sejarah dunia. Pernyataan itu seolah mengingatkan satu hal: peradaban besar tidak selalu datang dari tempat yang paling sering disebut.

Dalam kehidupan sehari-hari, warisan Persia hadir tanpa banyak disadari—melekat dalam kebiasaan, sistem, dan pengetahuan yang kita anggap biasa. Di situlah kekuatannya: tidak selalu terlihat, tetapi terus hidup.*

Ramdan Buhang

Meniti karier sebagai Jurnalis sejak 2010, berkomitmen pada dunia jurnalistik. Merekam jejak, mengungkap fakta, dan menyajikan cerita dengan perspektif berbeda.

Related Articles

Comment

Back to top button