Sangadi Busato Bongkar Tambang Ilegal di Hulu Sungai: “Mereka Menggali, Kami yang Tanggung Risikonya”
BOROKO, BINADOW.COM — Sangadi (Kades.red) Desa Busato, Aries Pratama Daud, angkat bicara soal aktivitas tambang ilegal yang mencabik lereng gunung di hulu Sungai Busato. Kepada media ini, Aris menyebut penambangan di wilayah itu sebenarnya bukan barang baru, kegiatan sudah berlangsung sejak 2009. Namun kala itu, para penambang bekerja manual, menggali dengan peralatan sederhana, tanpa jejak pengerukan yang meninggalkan luka lingkungan.
Semua berubah dalam beberapa bulan terakhir. Ekskavator masuk, jumlahnya lebih dari satu, menggaruk tubuh gunung yang selama ini menjadi penyangga sumber air bersih.
“Sekarang dampaknya mulai terasa. Kualitas air menurun,” kata Aris kepada media ini. Air yang mengalir ke bak penampungan desa perlahan menunjukkan perubahan warna, endapan bertambah.
Yang membuat Aris geram, aktivitas tambang itu tidak pernah memberikan kontribusi apa pun bagi desa. Pemerintah desa pun tidak pernah mengeluarkan rekomendasi ataupun persetujuan.
“Pengusaha masuk seenaknya, mengelola material untuk keuntungan mereka,” ujarnya, Minggu (06/12/2025)
Di tengah kondisi itu, sebagian warga justru ikut memanfaatkan sisa-sisa buangan material yang tak diambil pengelola. Bukan karena ingin terlibat, kata Aris, melainkan karena situasinya memaksa.
“Warga tidak punya kuasa melarang. Daripada tidak mendapatkan apa-apa, mereka memanfaatkan buangan itu.”
Aris tidak ingin terjebak pada perdebatan apakah tambang harus ditutup atau tetap berjalan. Baginya, yang paling penting adalah dampaknya.
“Selama tidak merusak ekologi, saya tidak mempermasalahkan,” katanya. “Hanya saja, kalau sudah ada kerusakan, siapa yang tanggung jawab? Mereka datang mengeruk, tapi ketika bencana terjadi mereka pergi. Itu yang bahaya.” lanjut Aris
Ia meminta pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup segerah mengambil langkah. Jika nantinya aktivitas itu akan dilegalkan, kata Aris, harus ada kerangka yang jelas untuk melindungi lingkungan dan menjamin keselamatan warga di hilir.
“Kalau terjadi bencana, kita semua yang repot,” ujarnya.
Di akhir percakapan, Aris berharap aparat kepolisian juga tidak tinggal diam. Ia menilai aktivitas tambang ini bukan lagi isu sembunyi-sembunyi. “Semua orang tahu kegiatan itu ada. Harus ada tindakan,” katanya.
Penulis: Ramdhan Buhang




